Data dan fakta unik serta fenomena menakjubkan termasuk artikel online populer ada disini

Showing posts with label Facebook. Show all posts
Showing posts with label Facebook. Show all posts

Inilah Perang Terpanjang dan Paling Aneh Di Dunia

Salah satu perang terpanjang, dan bahkan paling aneh, dalam sejarah dunia kita. Perang ini aneh karena tidak ada pertempuran dan pertumpahan darah, yang dikenal sebagai perang Tiga Ratus dan Tiga Puluh Lima Tahun. Konflik dimulai pada 30 Maret 1651, sebagai efek sampingan dari Perang Saudara Inggris.


Belanda, sekutu lama Inggris, memutuskan untuk memihak Parlemen. Kaum Royalis, yang sebelumnya memiliki hubungan persahabatan dengan Belanda, menganggap ini sebagai pengkhianatan. Karena marah, mereka menyerang kapal-kapal Belanda sebagai hukuman terhadap teman-teman mereka yang berkhianat.

Namun, pada 1651 Royalis telah diusir dari seluruh Inggris kecuali dari sekelompok kecil pulau, yaitu ‘Kepulauan Scilly’. Belanda, yang telah menderita kerugian perdagangan di tangan kaum Royalis, memutuskan untuk memberi mereka pelajaran dengan mengirim pasukan angkatan laut mereka ke daerah itu untuk mengancam kaum Royalis. 

Perintah juga diberikan kepada komandan Belanda, Tromp, untuk menyatakan perang jika kaum Royalis tidak mengeluarkan uang.

Kemudian, menurut cerita yang paling umum, kaum Royalis menolak uang itu, memaksa Tromp untuk menyatakan perang. Namun, pasukan Royalis yang jauh berkurang dan kemungkinan adanya hasil yang buruk membuat Tromp menghentikan perang dan kembali tanpa ada pertempuran yang terjadi. 

Segera kaum Royalis menyerah kepada anggota Parlemen, dan Belanda pada dasarnya lupa bahwa mereka telah menyatakan perang.

Lebih dari tiga abad kemudian, seorang sejarawan lokal, Roy Duncan, secara tidak sengaja menemukan catatan kaki bersejarah di Scilly mengenai perang itu, dan ia mengundang duta besar Belanda ke Inggris untuk mengunjungi Scilly dan menegosiasikan gencatan senjata. 

Perjanjian damai ditandatangani pada 17 April 1986, sehingga mengakhiri ‘perang palsu’ antara Belanda dan Kepulauan Scilly.

READ MORE - Inilah Perang Terpanjang dan Paling Aneh Di Dunia

Are you blogging less because of Facebook and Twitter?

"Blogs were once the outlet of choice for people who wanted to express themselves online. But with the rise of sites like Facebook and Twitter," writes Verne G. Kopytoff. "They are losing their allure for many people — particularly the younger generation." 

This idea that blogs are dying has been around practically as long as either Facebook or Twitter, and it almost always gets dismissed as a ridiculous notion. 

Wordpress founding developer Matt Mullenweg took some issue with the piece: "The title was probably written by an editor, not the author, because as soon as the article gets past the two token teenagers who tumble and Facebook instead of blogging, the stats show all the major blogging services growing — even Blogger whose global 'unique visitors rose 9 percent, to 323 million,' meaning it grew about 6 Foursquares last year alone. (In the same timeframe WordPress.com grew about 80 million uniques according to Quantcast.)" 

In fact, in 2010, Wordpress had over 6 million new blogs created in 2010, and pageviews were up by 53%. 

The New York Times itself even has a whole directory of blogs: 

Are you blogging less because of Facebook and Twitter?

"Blogging has legs — it's been growing now for more than a decade, but it's not a 'new thing' anymore," says Mullenweg. "Underneath the data in the article there's an interesting super-trend that the Times misses: people of all ages are becoming more and more comfortable publishing online." 

Major web content forces like AOL and Demand Media recognize the power of blogs. AOL is buying them, and Demand recently launched a blog syndication program. 

As is established every time this debate comes up, blogging and social media sites like Facebook and Twitter complement one another. End of story. Without blogs, people would have less interesting content to share on Facebook and Twitter. Without Facebook and Twitter, bloggers would have a harder time getting the readers. 

Kopytoff does make a critical point, however. The lines aren't always crystal clear about what is truly "blogging" and what isn't. Even Twitter use is often called "microblogging". 

"The blurring of lines is readily apparent among users of Tumblr," says Kopytoff. "Although Tumblr calls itself a blogging service, many of its users are unaware of the description and do not consider themselves bloggers — raising the possibility that the decline in blogging by the younger generation is merely a semantic issue." 

People blog on Facebook all the time too. They call them "notes". No matter where it's happening, blogging is not going away. You can call it what you want, but people will continue to put their thoughts into words and publish them online. Sometimes, they'll even do it in more than 140 characters. Some people even think Twitter should expand their character limit.

READ MORE - Are you blogging less because of Facebook and Twitter?

Berikut adalah 5 alasan mengapa mencurhatkan konflik keluarga dalam media sosial sangat tidak direkomendasikan

Berikut adalah 5 alasan mengapa mencurhatkan konflik keluarga dalam media sosial sangat tidak direkomendasikan - Perempuan memang gemar berbagi, termasuk berbagi isi hati alias curhat. Bahkan, bagi sebagian perempuan curhat bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja, anytime, anywhere, we share.

Berikut adalah 5 alasan mengapa mencurhatkan konflik keluarga dalam media sosial sangat tidak direkomendasikan

Karena tabiatnya ini banyak perempuan dan para istri yang kesulitan menyadari bahwa ketika ia mencurhatkan permasalahan keluarganya atau keretakan hubungannya dengan suaminya, yang ditangkap oleh kawan curhatnya justru ia sedang membongkar aib keluarganya, terutama suaminya. Apalagi jika ia curhat pada orang yang tidak pandai menjaga rahasia dan tidak berjiwa ishlah (mensolusikan masalah). Alih-alih mendapat jalan keluar, yang terjadi malah aib keluarga menjadi rahasia umum. Padahal awalnya ia hanya berniat berbagi, sekedar ingin didengarkan dan dimengerti atau hanya sekedar mencari pembelaan psikologis karena biasanya -menurut perspektifnya- diri nyalah yang menjadi objek penderita dari aib yang terjadi.

Kebiasaan curhat-mencurhat di mana saja ini menjadi semakin mengkhawatirkan ketika kini tersedia berbagai media sosial, entah Facebook (FB), Tweeter, BBM, dll.

Memang kebiasaan ini bukan hanya didominasi kaum hawa, kaum lelaki juga tidak sedikit yang sebentar-bentar menghiasi status FB atau akun tweeternya dengan aneka curhatan yang sama pula tidak hati-hatinya dalam hal menjaga ukhuwah dan kehormatan sesama muslim.

Jika curhat langsung pada orang yang salah saja demikian berbahaya, apalah lagi mencurahkan isi hati terkait keretakan hubungan suami-istri atau aib keluarga lainnya dalam jejaring sosial semacam Facebook atau Tweeter. Berikut adalah 5 alasan mengapa mencurhatkan konflik keluarga dalam media sosial sangat tidak direkomendasikan: 

Aib suami sesungguhnya adalah aib istri. Atau aib keluarga siapapun adalah sebenarnya aib kita juga karena kita adalah bagian dari keluarga kita. Meski jika memang kita yang menjadi korban dari kesalahan yang diperbuat oleh keluarga kita. Kita dengan suami satu dengan lainnya Allah sebutkan sebagai pakaian (QS. Al-Baqarah: 187). Fungsi utama pakaian adalah menutupi aurat yakni hal-hal yang jika terlihat manusia lain pemiliknya akan malu. Meski kita terluka, bukan berarti kewajiban menutupi aurat suami terlepas dari bahu kita. Justru kitalah orang pertama yang harus berbesar hati menutupinya, dan mencari jalan islah terbaik. 

Rentan salah paham. Bahasa tulisan lebih banyak memicu salah paham karena masing-masing orang yang membaca akan menafsirkannya dengan komponen-komponen penilaian yang ada dalam benaknya. Jika curhatan kita dibaca oleh orang yang bersangkutan dengan cara pandang yang berbeda tentu masalah akan bertambah runyam. PR kita bertambah, selain menyelesaikan masalah inti, kita pula harus mengklarifikasi kesalahpahaman memaknai status atau tweet kita. Melelahkan bukan? 

Jika belum bertemu melakukan tabayun (klarifikasi), belum tentu perspektif kita sama dengan perspektif suami kita. Karena lelaki dan perempuan berbeda dalam memandang permasalahan. Bisa jadi, sesungguhnya suami kitalah yang lebih banyak dirugikan atas konflik yang tengah terjadi. Jadi, jangan buat apa yang belum jelas menjadi tambah kabur dengan curhat-curhat yang hanya memuaskan hati sesaat namun berdampak buruk yang panjang. 

Orang dewasa cenderung lebih senang ditegur baik-baik ketimbang disindir-sindir di dalam media sosial. Hal ini lebih menyakitkan karena pihak yang kita sindir merasa tidak dianggap sebagai pribadi yang dewasa. 

Media sosial adalah tempat berkumpulny banyak orang yang tidak kita tahu kondisi masing-masing pribadinya. Perjalanan hidup tidak selamanya mulus, terutama tentang muamalah kita dengan manusia lainnya. Mungkin dulu, di ujung daerah yang pernah kita singgahi 10 tahun yang lalu ada seseorang yang pernah kita atau suami kita lukai dan masih menyimpan dendam atau malah menyimpan cinta terpendam kepada kita atau suami kita. Jika mereka mendapati keretakan dalam keluarga kita banyak hal memungkinkan yang dapat mereka lakukan. Status konflik ini juga dapat memicu pihak lain berbuat tidak layak pada kita. Di dunia maya banyak sekali lelaki iseng yang senang menggoda perempuan. Jadi, jangan ambil resiko ini! 

Kata-kata bersifat irreversible, jika sudah kita keluarkan maka tak dapat ditarik kembali. Kata-kata sudah membentuk opini tersendiri ketika pertama kali diterima oleh penerimanya. Meski kata-kata tersebut sudah kita ralat atau kita hapus, namun opini yang sudah ternbentuk dalam benak sekian banyak orang yang telah membaca status kita sebelumnya tentu tak gampang menghapusnya. Apa lagi catatan yang ada di tangan malaikat atas status kita, entah bagaimana kita menghapusnya. 

Jadi, mari belajar untuk tidak reaksioner dan memamah konflik lebih bijak agar konflik menjadi ladang pahala kita dalam kehidupan berkeluarga. Jika terpaksa memerlukan pihak lain untuk berbagi dan mencari jalan keluar, carilah orang yang amanah dan yang berorientasi islah (perbaikan). (esqiel/muslimahzone.com)

READ MORE - Berikut adalah 5 alasan mengapa mencurhatkan konflik keluarga dalam media sosial sangat tidak direkomendasikan

Gemuk Gara- Gara Facebook

Gemuk Gara- Gara Facebook - Para peneliti mengatakan bahwa orang yang rutin bersosialisasi dengan teman-temannya melalui media sosial, memiliki harga diri yang tinggi namun rendah dalam mengontrol pola makan.


Mereka senang memakan kudapan tidak sehat saat sedang berbincang dengan teman-temannya di dunia maya, sebagaimana dilansir dari DailyMail.

Tim penelitian dari Colombia University dan University of Pittsburgh menyimpulkan bahwa ini merupakan salah satu faktor risiko meningkatnya berat badan.

"Karena para pengguna internet lebih mementingkan eksistensi diri di antara teman-temannya di laman sosial, namun mereka tidak memperhatikan kontrol diri terhadap kudapan," sebagaimana ditulis para ilmuwan dalam Journal of Consumer Research.

Berdasarkan penelitian, laman media sosial seperti Facebook membuat orang lebih senang untuk mengunyah dan cenderung mengalami kegemukan. Mereka juga memiliki tagihan kartu kredit yang lebih tinggi.

"Menerapkan kontrol diri pada pengguna media sosial menjadi sangat penting untuk menjaga eksistensi di dunia maya namun juga harus bisa menjaga kesejahteraan diri," sebagaimana tertulis dalam jurnal itu.

Hal ini terbukti telah terjadi pada usia remaja, dan dewasa muda yang merupakan pengguna aktif media sosial dan tumbuh dewasa bersamaan dengan lini sosial, sebagai bagian dari kehidupan mereka sehari-hari. ( Antara New )

READ MORE - Gemuk Gara- Gara Facebook

Hati - Hati Memutus Pertemanan di Facebook

Pengguna Facebook sebaiknya berpikir dua kali dulu sebelum memutuskan untuk "unfriend" salah satu atau beberapa teman, karena studi terbaru menyebutkan hal tersebut dapat membawa konsekuensi serius di dunia nyata.

Hati - Hati Memutus Pertemanan di Facebook

Christopher Sibona dari Sekolah Bisnis Universitas Colorado Denver telah melakukan penelitian yang melibatkan 582 responden untuk mengetahui dampak dari "unfriend". Pendapat para responden ini dikumpulkan lewat media sosial Twitter.

Melalui penelitian ini, Sibona mendapati bahwa 40 persen dari responden menyatakan akan menghindari siapa saja yang telah memutus atau "unfriend" mereka di Facebook.

Sementara sebanyak 50 persen menyatakan tidak akan menghindari teman yang memutuskan mereka dan 10 persen menyatakan tidak yakin, demikian seperti yang dikutip dari situs Universitas Colorado Denver.

"Orang-orang berpikir jejaring sosial itu hanya untuk bersenang-senang. Tetapi kenyatannya apa yang anda lakukan di situs tersebut memiliki konsekuensi di dunia nyata," kata Sibona.

Sibona mengatakan, mereka yang "diputuskan" oleh teman di Facebook akan merasa harga dirinya turun, tidak merasa dimiliki dan hilang kendali. Selain itu, responden juga mengatakan suasana hati mereka memburuk setelah "diputus".

"Harga dari menjaga hubungan online sangatkah rendah dan di dunia nyata harga itu lebih tinggi," kata Sibona seperti yang dikutip dari situs Live Science.

Menurut Sibona, "unfriend" memiliki dampak psikologi untuk mereka yang "diputus" karena "unfriend" dipandang sebagai bentuk dari mengucilkan.

Ia mengatakan di dunia nyata, untuk menjaga sebuah hubungan, orang-orang bertemu dan berbincang. Hal itu lah yang tidak terjadi di dunia maya. ( tempo.co )

READ MORE - Hati - Hati Memutus Pertemanan di Facebook

Membaca Bahaya Dibalik Tombol Like di Facebook

Tombol "Like" yang bersimbol jempol sudah jamak dipakai para penggunanya di Facebook. Ternyata meng-klik tombol "suka' ini bisa menggiring ke data pribadi seseorang. Tombol yang biasanya menunjukkan minat seseorang atas artis, atlet, film, musik, organisasi, politik, agama, kutipan, lagu, dan lainnya ini ternyata bisa meninggalkan jejak digital. Jejak digital ini bisa menunjukkan siapa Anda dan bisa digunakan oleh pemasar, lembaga kredit, perusahaan, politikus, atau pemerintah.

Membaca Bahaya Dibalik Tombol Like di Facebook

Menurut Michal Kosinski, direktur operasi dari Pusat Psikometrik di Universitas of Cambridge, Inggris, tombol "Like" itu merupakan catatan digital, seperti halnya Google browsing. Tombol tersebut mudah dan dapat digunakan untuk membuat potret yang akurat serta bisa mengungkapkan identitas seseorang. "Saya bisa memprediksi siapa Anda hanya dari tombol "Like" Facebook Anda," katanya, Senin, 11 Maret 2013.

Meng-klik tombol "Like" memungkinkan pengguna untuk mengekspresikan hubungan dengan konten online. "Kebanyakan orang tidak menyadari mereka meninggalkan jejak yang sangat pribadi," kata Kosinski. Umumnya, tombol "Like" diklik dengan santai, dianggap tak bahaya, dan tidak penting. "Yang mengejutkan, dari data yang dianggap tak penting itu bisa ditarik kesimpulan penting," katanya.

Dari sejumlah informasi yang tampaknya remeh, namun bisa menunjukkan karakteristik seseorang. Kata Lillie Coney, associate director dari Electronic Privacy Information Center, sebuah organisasi yang meneliti kepentingan publik di Washington, kumpulan data ini ditambang oleh broker data dan dijual kepada peminatnya, seperti perusahaan dan politikus. Sedangkan Kosinski mengatakan, konsumen harus berhati-hati.

"Pengguna harus menyadari, apa pun yang mereka lakukan di dunia maya dapat digunakan untuk menyimpulkan ciri-ciri dan kepribadian. Melebihi yang mereka duga," katanya.

Kosinski tak asal bicara tentunya. Dia menyodorkan penelitian yang membuktikan pendapatnya. Dengan menyadap data pengguna aplikasi di Facebook, myPersonality, sekitar 58 ribu memberikan akses ke profil Facebook pengguna sehingga data jaringan sosial bisa terungkap. Dalam hal ini, para peneliti mengembangkan sebuah model matematika dan berkorelasi dengan menilai tombol "Like" mereka.
  • Hanya dari tombol "Like" model penelitian meramalkan: 
  • Gender (dengan akurasi 93 persen) 
  • Ras (dengan akurasi 95 persen) 
  • Orientasi seksual, (Gay dengan akurasi 88 persen. Lesbian dengan akurasi 75 persen) 
  • Pengguna narkoba (dengan akurasi 65 persen) 
  • Afiliasi politik (dengan akurasi 85 persen) 
  • Agama (dengan akurasi 82 persen) 
  • Status pernikahan (dengan akurasi 67 persen) 
Para penulis juga menemukan bahwa model penelitian hampir seakurat tes kepribadian singkat. Studi yang dipublikasikan pada jurnal PNAS ini didanai Microsoft Research dan Boeing Corporation. ( tempo.co )

READ MORE - Membaca Bahaya Dibalik Tombol Like di Facebook

Misteri Dibalik Tombol "Like" di Facebook

Kecenderungan politik, orientasi seksual, hingga kecerdasan dapat terlihat dari hal-hal yang disukai pemilik akun di Facebook. Hal-hal yang disukai tersebut ditandai dengan tombol "like" di Facebook.

Misteri Dibalik Tombol "Like" di Facebook

Penelitian yang dilakukan di Universitas Cambridge menggunakan algoritma untuk memprediksi agama, politik, ras, dan orientasi seksual pengguna Facebook. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal PNAS tersebut membuat potret kepribadian yang secara mengejutkan akurat. Temuan tersebut memberi peringatan untuk privasi pemilik akun.

Studi tersebut melibatkan 58 ribu pemilik akun Facebook dan informasi demografis yang memberikan hasil tes psikometri. Hal-hal yang disukai di Facebook kemudian dimasukkan dalam algoritma dan dicocokkan dengan informasi dari hasil tes kepribadian.

Algoritma tersebut terbukti 88 persen akurat untuk menentukan seksualitas laki-laki, 95 persen akurat dalam membedakan Afrika-Amerika dari Kaukasia-Amerika dan 85 persen untuk membedakan Republik dari Demokrat.

Pemeluk agama kristen dan muslim juga diklasifikasikan dengan akurasi 82 persen. Sementara, status hubungan dan penyalahgunaan zat diperkirakan dengan akurasi antara 65 persen dan 73 persen.

Situs yang diklik jarang secara eksplisit memperlihatkan atribut tersebut. Kurang dari 5 persen gay yang secara jelas mengklik 'like' untuk pernikahan sejenis. Sebaliknya, algoritma agregrat meligat kesukaan dalam musik dan acara TV untuk membuat profil pribadi.

"Kentang goreng berkorelasi dengan kecerdasan tinggi dan orang-orang yang menyukai film Dark Knight cenderung memiliki lebih sedikit teman Facebook, " kata penulis dari hasil penelitian, David Stilwell dilansir BBC.

Studi tersebut dinilai bisa dimanfaatkan untuk pemasaran perusahaan. Namun para peneliti memperingatkan profil tersebut mengancam privasi seseorang. ( republika.co.id )

READ MORE - Misteri Dibalik Tombol "Like" di Facebook