Data dan fakta unik serta fenomena menakjubkan termasuk artikel online populer ada disini

Showing posts with label Pendidikan Keluarga. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan Keluarga. Show all posts

Hidup Adalah Sebuah Proses

Di suatu sore, seorang anak datang kepada ayahnya yg sedang baca koran… “Ayah” kata sang anak…

“Ada apa?” tanya sang ayah…..

“aku capek, sangat capek … aku capek karena aku belajar mati matian untuk mendapat nilai bagus sedang temanku bisa dapat nilai bagus dengan menyontek…aku mau menyontek saja! aku capek. sangat capek… 

aku capek karena aku harus terus membantu ibu membersihkan rumah, sedang temanku punya pembantu, aku ingin kita punya pembantu saja! … aku capek, sangat capek …


aku capek karena aku harus menabung, sedang temanku bisa terus jajan tanpa harus menabung…aku ingin jajan terus! …

aku capek, sangat capek karena aku harus menjaga lisanku untuk tidak menyakiti, sedang temanku enak saja berbicara sampai aku sakit hati…

aku capek, sangat capek karena aku harus menjaga sikapku untuk menghormati teman teman ku, sedang teman temanku seenaknya saja bersikap kepada ku…

aku capek ayah, aku capek menahan diri…aku ingin seperti mereka…mereka terlihat senang, aku ingin bersikap seperti mereka ayah ! ..” sang anak mulai menangis…

Kemudian sang ayah hanya tersenyum dan mengelus kepala anaknya sambil berkata ” anakku ayo ikut ayah, ayah akan menunjukkan sesuatu kepadamu”, 

Lalu sang ayah menarik tangan sang anak kemudian mereka menyusuri sebuah jalan yang sangat jelek, banyak duri, serangga, lumpur, dan ilalang… 

Lalu sang anak pun mulai mengeluh ” ayah mau kemana kita?? aku tidak suka jalan ini, lihat sepatuku jadi kotor, kakiku luka karena tertusuk duri. badanku dikelilingi oleh serangga, berjalanpun susah karens ada banyak ilalang… aku benci jalan ini ayah” … 

Sang ayah hanya diam... Sampai akhirnya mereka sampai pada sebuah telaga yang sangat indah, airnya sangat segar, ada banyak kupu kupu, bunga bunga yang cantik, dan pepohonan yang rindang…

“Wwaaaah… tempat apa ini ayah? aku suka! aku suka tempat ini!

Sang ayah hanya diam dan kemudian duduk di bawah pohon yang rindang beralaskan rerumputan hijau.

“Kemarilah anakku, ayo duduk di samping ayah” ujar sang ayah, lalu sang anak pun ikut duduk di samping ayahnya.

” Anakku, tahukah kau mengapa di sini begitu sepi? padahal tempat ini begitu indah…?”

” Tidak tahu ayah, memangnya kenapa?”

” Itu karena orang orang tidak mau menyusuri jalan yang jelek tadi, padahal mereka tau ada telaga di sini, tetapi mereka tidak bisa bersabar dalam menyusuri jalan itu”

” Ooh… berarti kita orang yang sabar ya yah? alhamdulillah”

” Nah, akhirnya kau mengerti”

” Mengerti apa? aku tidak mengerti”

” Anakku, butuh kesabaran dalam belajar, butuh kesabaran dalam bersikap baik, butuh kesabaran dalam kujujuran, butuh kesabaran dalam setiap kebaikan agar kita mendapat kemenangan, seperti jalan yang tadi… 

Bukankah kau harus sabar saat ada duri melukai kakimu, kau harus sabar saat lumpur mengotori sepatumu, kau harus sabar melawati ilalang dan kau pun harus sabar saat dikelilingi serangga… 

Dan akhirnya semuanya terbayar kan? ada telaga yang sangatt indah.. seandainya kau tidak sabar, apa yang kau dapat? kau tidak akan mendapat apa apa anakku, oleh karena itu bersabarlah anakku”

” Tapi ayah, tidak mudah untuk bersabar ”

” Aku tau, oleh karena itu ada ayah yang menggenggam tanganmu agar kau tetap kuat … 

Begitu pula hidup, ada ayah dan ibu yang akan terus berada di sampingmu agar saat kau jatuh, kami bisa mengangkatmu, 

tapi… ingatlah anakku… ayah dan ibu tidak selamanya bisa mengangkatmu saat kau jatuh, suatu saat nanti, kau harus bisa berdiri sendiri… maka jangan pernah kau gantungkan hidupmu pada orang lain, jadilah dirimu sendiri… 

Seorang pemuda beragama yang kuat, yang tetap tabah dan sabar maka kau akan dapati dirimu tetap berjalan menyusuri kehidupan saat yang lain memutuskan untuk berhenti dan pulang… maka kau tau akhirnya kan?”


” Ya ayah, aku tau.. aku akan dapat surga yang indah yang lebih indah dari telaga ini … 

Sekarang aku mengerti … terima kasih ayah ,aku akan tegar saat yang lain terlempar ”


Sang ayah hanya tersenyum sambil menatap wajah anak kesayangannya.

RENUNGAN : 

Terkadang kita terburu-buru ingin mencapai sesuatu dalam hidup ini, kita lupa akan adanya proses yang harus dilalui terlebih dahulu apa lagi dalam hal pencarian materi. kita hanya menginginkan yg instan tanpa melalui proses bekerja dan berusaha.

Hidup ini ibaratnya pendakian gunung, berjalan diatas batu yang terjal dan badai serta kabut untuk sampai ke puncak. setelah sampai kepuncak akan menikmati keindahan alam yang jarang kita temui…

Sumber : Fanspage Facebook

READ MORE - Hidup Adalah Sebuah Proses

Kesuksesan Bisnis Rumahan Tergantung Kerjasama Dengan Pasangan

Bisnis rumahan dimana pasangan suami istri menjadi pelakonnya memiliki suatu tantangan tersendiri. Diperlukan banyak kesabaran, pengertian dan kerjasama yang baik dari kedua belah pihak, karena hal ini tidak hanya mempengaruhi kondisi bisnis, tapi juga mempengaruhi psikologi anggota rumah itu sendiri. Berikut adalah beberapa tips kerjasama untuk pasangan suami istri yang sedang mengembangkan bisnis rumahan:


1. Perlakukan segala gangguan secara sama

Jika pasangan anda ingin pergi berlibur di saat-saat sibuk, maka cobalah untuk berpikir lagi. Bisnis rumahan juga memerlukan keseriusan yang sungguh-sungguh jika ingin sukses. Tapi anda tidak boleh longgar terhadap peraturan ini, jika ini keinginan anda. Jika anda menolak ajakan liburan oleh anak anda, maka anda pun harus menerapkan peraturan ini kepada diri anda. Jangan sampai salah satu belah pihak merasa tercurangi karena peraturan yang tidak ditetapkan secara konsisten.

2. Hilangkan ego anda

Untuk pekerjaan apapun, anda perlu sedikit mengurangi rasa egois anda. Jika anda ingin sukses, maka anda harus berani menerima kritik dan saran dari pasangan anda. Sama seperti jika anda mendapatkan penilaian dari rekan kerja dan bos anda di kantor. Jika anda merasa gengsi menerima nasehat dari istri atau suami anda, maka sama saja anda memberikan hambatan kepada kesuksesan anda sendiri. Karena salah satu kunci kesuksesan adalah ma uterus memperbaiki diri. 

Terimalah kenyataan jika pasangan anda lebih memiliki talenta dari pada anda. Berikanlah pujian dan motivasi kepada masing-masing pasangan anda.

3. Definisikan tugas masing-masing

Pembagian tugas yang baik antara pasangan bisa meningkatkan efisiensi dan produktifitas bisnis anda. Sebagai contoh, bagilah tugas siapa yang memegang bagian keuangan, siapa yang memantau produksi atau siapa yang berhadapan dengan pelanggan. Dengan deskripsi kerja yang jelas konflikpun bisa dikurangi.

4. Bagi dan ciptakan solusi dalam masalah

Jika terdapat masalah, maka pecahlah masalah ini menjadi bagian-bagian kecil, kemudian bagilah tugas siapa yang akan memecahkan masalah tersebut sesuai dengan keahlian masing-masing. Tapi perlu di tekankan bahwa anda harus mempercai pasangan anda dalam memecahkan masalah ini. Karena kurangnya rasa kepercayaan akan menimbulkan konflik internal yang akan mempengaruhi ketenangan keluarga.

5. Pisahkan meja kerja

Karena masing-masing memiliki tugas yang berbeda, maka meja kerja pun sebisa mungkin dipisah, sehingga pekerjaan yang satu tidak bercampur dengan yang lain. Pengorganisasian data dan dokumen yang tidak rapi baik di rumah maupun dikantor akan menyebabkan kekacauan.

6. Disiplin

Walaupun anda bekerja di rumah, anda harus tetap disiplin dalam mengerjakan tugas-tugas anda seperti layaknya di kantor. Bukan berarti karena anda dirumah, maka anda bisa seenaknya bersantai. Anda bisa berbisnis tapi bersantai, tapi apakah hasilnya akan maksimal? Anda sendiri yang bisa menjawab.

7. Saling menghargai
         
Jika pasangan anda mencapai suatu prestasi yang bagus, jangan segan untuk memberikan pujian. Pujian sangat penting untuk meningkatkan semangat kerja baik terhadap karyawan maupun dalam hubungan keluarga. Skali-skali berikanlah hadiah kepada pasangan anda, atas berhasilnya suatu pekerjaan yang ia lakukan.

8. Membagi tugas rumahan

Jika pasangan anda memiliki tugas rumahan seperti menjaga anak dan membersihkan rumah, maka berusahalah untuk mengurangi beban kerja bisnis pasangan anda. Intinya adalah adanya pengertian untuk saling membantu satu sama lain. Jangan sampai pasangan merasa diperbudak dengan pekerjaan bisnis dan pekerjaan rumah yang saling memanggil.

Membuat bisnis rumahan dengan pasangan memang sangatlah tidak mudah. Beberapa pengusaha yang sukses pun ada yang berpendapat bahwa jika ingin sukses maka jangan jadikan keluarga sebagai rekan bisnis, karena jika bisnis tersebut gagal, maka akan mempengaruhi hubungan keluarga. Tapi disisi lain, banyak juga para pembisnis besar yang bahan bakar terbesarnya adalah dukungan keluarga. Hal ini menunjukkan tidak ada salahnya menjadikan pasangan sebagai rekan kerja dalam usaha anda.

READ MORE - Kesuksesan Bisnis Rumahan Tergantung Kerjasama Dengan Pasangan

When Lying isn't a Problem : Theory of Mind Difficulties

There are many symptoms that an individual with autism may experience; however, one of the most frustrating and hard to understand is what has recently been named Theory of Mind. Within the last few decades, this problem has been more thoroughly discussed and studied, but it is still largely a mystery. Because of Theory of Mind problems, social interactions are even more strenuous for autistic individuals.

When Lying isn't a Problem - Theory of Mind Difficulties

Theory of Mind causes these social behavior difficulties in almost every aspect, from playgroups as children to the social world as adults. The concept behind Theory of Mind is that autistic people fail to recognize that other people in the world have different ways of looking at things. Although an autistic person may not be egocentric, he or she probably inherently assumes that everyone thinks, feels, and knows the same things he or she thinks, feels, and knows. Most autistic people have an inability to lie, which is not necessarily a bad thing, but is clearly unnatural. They don't even consider lying an option because they assume everyone knows the truth as they know it.

Because autistic individuals have an inability to lie, they also do not realize that other people do so. In fact, it is a rude awakening for autistic people to find out that others lie or are bad in general. This is especially unnerving when first experienced in the business world, and many autistic individuals do not know how to cope with this. Because they believe that everyone sees the world as they do, it is difficult for them to put themselves in others' shoes. Of course, this can be taught, but it is unfortunately a hard process that those with autism have to constantly remember to do.

Even children have trouble with Theory of Mind-they find it difficult to play games with other children that require keeping a secret. They also often must be reminded of sharing and releasing aggression in ways that are not harmful. Some of an autistic person's frustration may stem from this inability to understand why another is not reacting in a situation in the "correct" way. Autistic children also have a hard time understanding why people don't know certain facts-if they know it, so should everyone else.

Theory of Mind still needs to be studied in order to be able to better understand and treat this symptom of autism. Currently, the best teaching method is continuous social interaction, along with role-playing and other games that require autistic children to see things from many angles. Until modern medicine finds a better answer to Theory of Mind problems, the best thing to do is be patient with autistic individuals and be willing to explain your thought process to them.

READ MORE - When Lying isn't a Problem : Theory of Mind Difficulties

Setiap Anak Memiliki Kecerdasan Dalam Suatu Bidang Kecerdasan Yang Berbeda

Sesuai dengan paradigma masyarakat yang menyoroti seorang anak bila mendapat nilai tinggi dalam pelajaran matematika, maka cenderung semua pihak memujinya sebagai anak cerdas. Padahal berdasarkan teori multiple intelligence, manusia diberikan beberapa tipe kecerdasan yaitu: kecerdasan dalam hal linguistik (berbahasa, pidato), kinestetik (menggambar, design art) kecerdasan logis matematik, kecerdasan spasial, kecerdasan musical, kecerdasan interpersonal, dan kecerdasan intrapersonal. Teori ini mengajari kita bahwa senmua anak cerdas, tetapi mereka cerdas dalam cara yang berbeda-beda.


Pernah satu hari, penulis yang juga merupakan guru besar di sebuah sekolah Islam internasional mendapati seorang siswa lelaki berusia 10 tahun tengah murung di sebuah kantin, duduk diam sambil memainkan sedotan dalam teh botol dihadapannya. Penulis bertanya pada siswa tersebut yang kemudian diketahui namanya Ibrahim; "Apa yang kamu pikirkan nak? Mengapa kamu tidak bergabung dengan kawan-kawanmu bermain bola?" Ibrahim menjawab; "Aku tak pandai bermain bola, kata mereka tendanganku seperti tendangan anak perempuan dan lariku nampak ragu-ragu." Jawabnya sambil merengut.

Dihari yang lain, ketika hujan memenuhi kota Jakarta, dengan tergesa-gesa aku membuka pintu gerbang sekolah dan di pojok kantin, aku mendapati seorang lagi anak lelaki duduk sambil bertelekan dagunya dan sibuk memainkan pensil dan mencoret-coret bukunya. Perlahan aku menghampirinya, rasa keibuanku timbul dan membuatku tergelitik untuk bertanya dan membelai rambutnya yang bertambah kusut dari menit ke menit, tanyaku; " mengapa kamu tidak masuk kelas nak, diluar dingin…" jawabnya; "aku tak bisa pelajaran matematika bagian pecahan ini, maka aku tak mampu mengerjakan PR semalam. Tak ada seorangpun yang mengerti diriku."

Pada hari ketiga, pada jam yang sama yaitu pukul sepuluh pagi dan ditempat yang sama, di kantin yang sama, aku melihat kedua anak lelaki yang kujumpai kemarin dan kemarinnya lagi duduk berdua, sambil tertawa-tawa, mereka sibuk mencoret coret sesuatu, dan kali ini aku menahan diri untuk tidak bertanya apa yang sedang mereka kerjakan, lalu duduk di dekat mereka dengan diam. Lamat-lamat aku mendengar mereka membuat kesepakatan.

"Aku janji akan mengajarimu matematika asalkan engkau mau mangajariku cara bermain bola."

"Ok, aku janji akan mengajarimu cara menendang bola, mendrible bola, dan trik-trik lainnya, mudah kok, asalkan kau mampu ajari aku mengubah pecahan menjadi bentuk decimal."

Subhanallah, aku melihat wajah-wajah ceria penuh percaya diri, dan di dalam hati aku membatin, Allah telah menciptakan manusia dengan masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya dan mereka hidup berjamaah untuk saling melengkapi kekurangan masing masing. Sehingga tidaklah semua orang harus pandai matematika dan juga tidaklah semua anak harus pandai bermain bola.

Biarlah mereka menemukan intelligence mereka masing masing sesuai dengan minat, bakat dan kemampuan dalam dirinya. Karena setiap anak memiliki kecerdasan yang berbeda. Sejak itu aku memutuskan, bahwa tidak ada lagi ranking dalam setiap kelas, karena sesungguhnya bila mau jujur, setiap anak memiliki rangking dalam kelompoknya, bila si A memiliki ranking pertama dalam bermain bola, maka si B menjadi rangking pertama dalam matematika, dan si C menduduki rangking pertama dalam lomba berpidato.

Namun tak kupungkiri, ada juga seorang anak yang dia memiliki rangking dalam beberapa bidang, hal inilah yang dinamakan seorang anak yang memiliki multiple intelligence. But be proud with your inner intelligence that Allah gifted to you.
Sumber : eramuslim.com

READ MORE - Setiap Anak Memiliki Kecerdasan Dalam Suatu Bidang Kecerdasan Yang Berbeda

Effects of bullying may add up in kids

The negative physical and mental effects tied to bullying among children and teens may accumulate throughout the years, according to a new study.

Researchers found that teens who had been bullied in the past and those currently being bullied tended to have a lower quality of life, compared to those who were bullied less or not at all.

This finding and previous research on the effects of bullying suggest more rigorous work should be done on finding ways to intervene and stop bullying, said the study's lead author.

Effects of bullying may add up in kids

"I think this is overwhelming support for early interventions and immediate interventions and really advancing the science about interventions," Laura Bogart, from Boston Children's Hospital, told Reuters Health.

In the past, when researchers have surveyed students at one point in time, children and teens who were being bullied tended to score lower on measures of physical and mental health.

But few studies have examined whether the possible effects of bullying accumulate over the years, the researchers write in the journal Pediatrics.

They analyzed data from the Healthy Passages study, which surveyed students in Alabama, California and Texas about how much bullying they experienced and evaluated their physical and mental health.

Overall, 4,297 students completed the surveys in fifth, seventh and 10th grades.

The researchers found that about a third of the students had been regularly bullied at some point during the course of the study.

Generally, those who had been bullied in the past scored better on measures of physical and mental health, compared to those who were currently being bullied. Teens who were bullied throughout their school career scored the worst.

For example, about seven percent of 10th grade students who had never been bullied scored low on mental health measures. That compared to 12 percent who had been bullied in the past, 31 percent who were currently being bullied and almost 45 percent of those who underwent persistent bullying.

About eight percent of 10th grade students who were never bullied had poor physical health, compared to 12 percent of those who were bullied in the past, 26 percent who were currently being bullied and 22 percent who were continuously bullied.

Poor mental health included traits such as being sad, afraid and angry, according to Bogart. Poor physical health included limitations like not being able to walk far and not being able to pick up heavy objects.

"I think one key thing to take from this is that any adult that has any contact with children . . . (should) know what the signs of bullying might be," Bogart said. "This study tells us some of them, but not all of them."

"There are physical signs, but they're not always physical," she said.

For example, one non-physical sign that a young person is being bullied is that the child doesn't want to go to school.

Bogart also said it's important for parents to know if their child falls into one of the groups at high risk for bullying. Those groups include children with physical disabilities, those who are overweight and obese and those who are lesbian, gay, bisexual or questioning.

"I think this says - especially for parents - to be really attuned to what's going on in their kids' lives by paying attention, knowing what's going on during the school day and being aware so they'll notice changes like these," she said. (Reuters Health)

READ MORE - Effects of bullying may add up in kids

Tips Cerdas Sholehkan anak

Anak adalah harta yang tidak ternilai oleh apapun. Dia ibarat titipan paling indah yang diberikan Allah kepada orang tuanya. Pada masa depannya lah terletak harapan serta kebahagiaan para orang tua.

Tips Cerdas Sholehkan anak

Dijaman modern seperti sekarang ini, adalah sebuah keharusan bagi orang tua untuk mengajarkan anak- anak mereka tentang pentingnya akidah yang lurus. Hal ini penting untuk dilakukan, mengingat banyaknya pengaruh diluaran yang bisa membentuk karakter anak- anak kita. Maka sebagai orang tua, kita harus tahu bagaimana cara mengarahkan mereka, agar kelak mereka menjadi anak- anak yang sholeh. Berikut beberapa tips mendidik anak agar menjadi sholeh, Inshaallah.


“Buah jatuh tak jauh dari pohonnya”, perumpamaan ini pas sekali untuk menggambarkan, bahwa sedikit banyak anak adalah cerminan dari kedua orang tuanya. Karena itulah, sebelum kita memiliki cita- cita untuk mendapatkan anak sholeh, memang sebaiknya para orang tua mensholehkan diri mereka. Orang tua juga selayaknya melengkapi diri dengan berbagai ilmu, agar dapat digunakan dalam pengasuhan anak. Ketika anak dibekali oleh bangunan keagamaan yang baik, hal ini akan menciptakan langkah antisipasif terhadap bencana kebobrokan akhlak anak dimasa depan. Jadi sekedar memerintahkan anak untuk berbuat, tidaklah cukup membentuk karakter dan pribadi yang sholeh pada diri mereka. Orang tua juga harus sanggup untuk memberikan tauladan dalam hal berbuat baik.


“Like father, like son”, ungkapan ini mungkin sudah sering kita dengar untuk menjelaskan bahwa memang anak adalah plagiator ulung. Setiap tindak tanduk orang tua yang tertangkap oleh mata anak- anak mereka, tidak akan hilang begitu saja. Memori anak yang kuat akan terus merekam. Jika seorang anak sering berkata kasar, bisa jadi karena dia juga sering mendapat perkataan seperti itu dari orang tuanya. Atau mungkin karena si anak seringkali melihat adegan pertengkaran yang dipertontonkan orang tua mereka dirumah. Jika hal ini dibiarkan setiap hari, lama-lama sikap tersebut akan diimitasi, diinternalisasi dan dihabitasi dalam kehidupan anak tersebut.


Mengajarkan ilmu kepada anak, ibarat mengukir diatas batu. Ilmu apapun yang orang tua berikan kepada anak akan dengan mudah terserap. Ini tidaklah mengherankan, karena ketika anak dilahirkan mereka memiliki 100 miliar neuron di otaknya. Jika diumpamakan satu unit komputer memiliki 100 neuron (jaringan) maka otak anak akan sama dengan 1 miliar unit komputer. Karena itulah, anak-anak memiliki karakteristik ingatan yang kuat. Maka, disinilah waktu yang tepat untuk para orang tua untuk mengajarkan mereka tentang akidah yang benar, namun tetap dengan bahasa yang mereka bisa pahami.


“Sesungguhnya perumpamaan teman yang shalih dengan teman yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Seorang penjual minyak wangi bisa memberimu atau kamu membeli darinya, atau kamu bisa mendapatkan wanginya. Dan seorang pandai besi bisa membuat pakaianmu terbakar, atau kamu mendapat baunya yang tidak sedap.” (HR. Bukhari Muslim). Itulah pesan Rasulullah yang mulia, agar kita berhati- hati dalam memilih teman, serta peka terhadap pengaruh yang berasal dari lingkungan sekitar kita. hal yang sama juga berlaku bagi anak- anak kita. Mereka yang polos kadang belum mengerti tentang bagaimana mereka harus berteman. Maka disinilah tantangan bagi orang tua untuk kemudian “menyelamatkan” anak mereka dari pengaruh buruk yang akan membentuk kepribadiannya dimasa depan.


Kesabaran adalah hal mutlak harus dimiliki orang tua. Hal ini karena dalam rentang proses mendidik anak, kadang kita menemui hal- hal yang kurang berkenan. Contohnya, anak bersikap bandel dan tidak mau dinasehati. Ketika berada dalam keadaan seperti ini, sebaiknya orang tua menghindarkan diri dari caci maki dan kemarahan yang hanya akan membuat mereka semakin menjauh. Ketika emosi sudah mulai memuncak, orang tua harus pandai dalam menguasai diri, katakan pada diri bahwa toh mereka masih anak- anak, yang mungkin belum sepenuhnya mengerti tentang sebuah akibat. Kitapun pernah pada usia mereka, dan pastilah saat itu kita pun tidak ingin dibenarkan dengan cara yang kasar. Selain itu, orang tua juga harus belajar tentang keikhlasan. Ridho allah adalah tujuan terbaik, dan jalan menggapainya adalah dengan ikhlas. Keikhlasan hati orang tua akan membuat apa yang mereka sampaikan mudah diserap dan dipahami anak. Dan yang tidak kalah penting, adalah dengan terus mendoakan mereka, supaya selalu berada dijalan Allah, dan kelak menjadi generasi islami yang membanggakan. (esqiel/voaislam/muslimahzone.com)

READ MORE - Tips Cerdas Sholehkan anak

Beginilah Cara Efektif meningkatkan Kecerdasan Anak Sejak Dini

Kecerdasan anak bisa distimulasi sejak dini. Anda hanya perlu mengintensifkan kepercayaan diri dan keingintahuannya agar kecerdasannya lebih terasah.

Beginilah Cara Efektif meningkatkan Kecerdasan Anak Sejak Dini

Ada banyak cara meningkatkan kecerdasan diri anak sejak dini. Dalam hal ini, orangtua hanya perlu peka dan rajin memberikan hal-hal baru untuk membuat otaknya lebih kaya beragam hal. Untuk lebih lengkapnya, Aisya Yuhanida Noor, S.Psi, M. Psi, Psikolog Sekolah SD BPI Bandung memberikan paparannya, seperti dikutip dari Tabloid Mom & Kiddie.

Kembangkan Rasa Ingin Tahunya

Anak yang cerdas selalu ingin tahu akan hal baru. Jika rasa ingin tahu sudah melekat pada anak, orangtua tidak perlu menyuruh anak untuk belajar ini itu. Karena dia sendiri yang akan penasaran. Arahkan anak untuk suka membaca, mengamati dan mengritisi pengalaman-pengalamannya dan situasi yang ia lihat di sekelilingnya. Semakin banyak yang dia pelajari, otomatis akan membuat wawasannya semakin luas, sehingga ia akan lebih mudah mengambil keputusan yang lebih tepat dengan berdasar atas wawasannya tersebut.

Kepercayaan Diri

Mendidik anak cerdas yang baik adalah membuatnya percaya diri dan selalu optimis bahwa dia bisa melakukan sesuatu. Anak bisa percaya diri ketika ia sudah berhasil memenuhi kebutuhan dasarnya sendiri, dan memiliki banyak pengalaman keberhasilan. Melibatkan anak dalam kegiatan berkelompok, seperti kegiatan olahraga dan kesenian dapat dilakukan.

Kembangkan Disiplin dan Tanggung Jawab

Beri anak banyak kesempatan untuk memahami aturan dan nilai yang benar dan berlaku di lingkungan. Masukkan nilai-nilai dengan cara berdiskusi sesuai kemampuan berpikir anak. Ketika anak paham tentang suatu nilai, anak akan bisa disiplin mengarahkan dirinya sendiri dalam menghadapi situasi apapun.

Latih Kemampuan Mengambil Keputusan

Mengambil keputusan merupakan salah satu keterampilan yang harus diajarkan kepada anak. Tidak mungkin mereka bisa terampil jika semua hal sudah diputuskan orangtua. Berikan anak kesempatan untuk memutuskan sesuatu dan merasakan konsekuensi dari keputusannya. Anak akan banyak belajar dari hal tersebut.


Anak masih membutuhkan banyak arahan untuk memastikan eksplorasinya terarah dan ketepatan pemahamannya akan suatu informasi dan kejadian. Hal ini dapat dikontrol ketika orangtua dan anak memiliki komunikasi terbuka, dimana anak merasa aman dan nyaman untuk bertanya dan menceritakan apapun kepada orangtua. ( okezone )

READ MORE - Beginilah Cara Efektif meningkatkan Kecerdasan Anak Sejak Dini

Cara Sederhana Tingkatkan Fungsi Otak

Menyiapkan kegiatan yang padat seperti les atau kursus merupakan salah satu yang banyak dipilih oleh orang tua untuk meningkatkan prestasi anak. Namun kenyataannya, belajar dalam kondisi tertekan hanya akan membuat anak semakin stres dan justru tidak membuahkan hasil. Sebenarnya, ada beberapa langkah untuk meningkatkan memori anak Anda dengan cara yang lebih sederhana.

Cara Sederhana Tingkatkan Fungsi Otak

1. Membacakan sebuah cerita

Mendongeng rupanya bukanlah suatu bentuk kegiatan yang hanya bisa meningkatkan keakraban anak dan orang tua. Namun, membacakan sebuah cerita dengan berbagai ekspresi ternyata juga bisa mengasah memori anak. Setelah Anda membacakan sebuah cerita anak, cobalah meminta mereka untuk mengulanginya.

2. Gim memori

Permainan ini membantu anak berpikir serta memproses informasi lebih cepat. Beberapa jenis permainan pikiran juga terlibat dalam peningkatan kemampuan menghapal urutan dan objek.

3. Mempelajari bahasa baru

Dalam usaha meningkatkan kemampuan memori otak, bahasa memainkan peran penting. Belajar bahasa baru membuat anak belajar untuk beradaptasi pada hal-hal baru di sekitarnya dan juga memberikan latihan pada otak mereka. Cara ini juga efektif untuk menambah pengetahuan umum mereka tentang dunia.

4. Puzzle

Lempengan puzzle juga merupakan pilihan yang bisa digunakan untuk meningkatkan kemampuan memori anak. Dengan menyusun puzzle, anak akan menghapal bentuk dan menyusun strategi.

5. Kegiatan koordinasi

Selain pemilihan bentuk kegiatan yang tepat, aktif secara fisik juga membantu anak dalam mengasah kemampuan memorinya. Buat jadwal olahraga yang menyenangkan untuk anak Anda seperti bermain bola, bersepeda, les tari, atau musik.

6. Rutinitas

Sesuatu yang dilakukan secara rutin seperti olahraga hingga tidur juga berkontribusi terhadap perkembangan otak anak Anda. Selain itu, rutinitas yang dilakukan juga akan membuat anak disiplin dalam menunaikan tugasnya.

Meskipun langkah di atas bisa mempertajam memori anak, namun sebaiknya Anda tetap mengawasi anak, agar kegiatan yang dilakukan tetap positif. (metrotvnews.com/babyzone/Nana Febrina/Eno)

READ MORE - Cara Sederhana Tingkatkan Fungsi Otak